 |
| Data Citra Radar Cuaca Tanggal 12 Januari 2015 Pukul 08.00 WITA |
Citizen Journalism
I Wayan Suardana, SE, MM, Made Dwi Jendra P, M.Si, Fitria Puspita, S.ST
Tim Analisis Cuaca dan Iklim BBMKG III
Aktifnya Monsun Barat yang berlimpah akan uap air berdampak terhadap
peningkatan curah hujan yang terjadi di wilayah Bali. Dengan Puncak
Hujan secara rata-rata terjadi pada sekitar bulan Januari-Februari.
Dengan demikian, untuk mengurangi resiko yang dapat ditimbulkan
masyarakat yang berada di sekitar wilayah rawan banjir dan longsor
diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan untuk mengurangi resiko yang
dapat ditimbulkan. Karena, salah satu faktor pemicu dari bencana banjir
dan tanah longsor adalah terjadinya peningkatan intensitas curah hujan.
Monsun Barat dan Karakteristiknya
Perbedaan
kapasitas daratan dan lautan dalam menerima panas dari matahari adalah
faktor penggerak terjadinya Angin Monsun. Perubahan angin monsun
mengikuti gerakan semu matahari, ketika matahari berada di Belahan Bumi
Utara maka angin yang melewati wilayah Bali dominan berasal dari arah
timur yang sering dikenal dengan sebutan Angin Timuran atau Monsun
Timor.
Sebaliknya, ketika matahari berada di Belahan Bumi Selatan angin yang
melewati wilayah Bali dominan berasal dari arah barat yang sering
dikenal dengan sebutan Angin Baratan atau Monsun Barat.
Monsun Barat memiliki karakteristik yang sangat basah, karena monsun
barat berasal dari wilayah lautan yang sangat luas di Belahan Bumi Utara
(Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik bagian utara). Maka, ketika
monsun barat melalui wilayah Indonesia dan Bali pada khususnya akan
berakibat terhadap peningkatan curah hujan di wilayah tersebut yang
dikenal dengan periode musim hujan.
Secara rata-rata puncak aktifnya monsun Barat terjadi pada periode
bulan Desember-Januari-Februari (DJF). Fenomena cuaca yang biasanya
menyertai monsun barat adalah aktifnya Siklon Tropis atau Badai Tropis
yang terjadi di sekitar Samudera Hindia sebelah timur Benua Australia.
Secara rata-rata peningkatan Siklon Tropis di wilayah tersebut
terjadi pada bulan Januari-Februari-Maret (JFM). Dengan aktifnya siklon
tropis yang berbarengan dengan angin baratan akan sangat berdampak
terhadap peningkatan intesitas curah hujan pada periode musim hujan di
wilayah Bali. Saat siklon tropis terjadi berpotensi mengakibatkan sifat
curah hujan bulanannya di atas normalnya.
Selain dengan Siklon Tropis, angin baratan yang membawa uap air
berlimpah dapat berinteraksi dengan angin lokal yang dipengaruhi oleh
topografi. Sehingga angin baratan dapat mengalami penguatan seiring
ketinggian tempat yang dilaluinya, baik itu oleh pengaruh angin darat
mapun angin laut, ataupun interaksi antara angin gunung dan angin
lembah.
Kondisi semacam ini sangat nyata terjadi di wilayah Bali seperti
misalnya di daerah Bedugul atau Candi Kuning, Kabupaten Tabanan. Adanya
pergerakan angin darat berdampak terhadap peningkatan curah hujan di
daerah tersebut. Sehingga wilayah tersebut pada periode musim hujan akan
mengalami curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya di
Provinsi Bali.
Awal Musim Hujan di Bali
Angin Monsun yang
bertiup ke wilayah Bali berbalik secara periodik selama enam bulan
sekali. Monsun Timur yang identik dengan musim kemarau biasanya terjadi
antara bulan April hingga September, sedangkan Monsun Barat yang identik
dengan musim hujan biasanya terjadi antara bulan Oktober hingga Maret
setiap tahunnya.
Namun demikian, kondisi panjang musim yang terjadi disetiap daerah
akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi lokal topografi setempat.
Berdasarkan BMKG kondisi musim yang berbeda-beda dari suatu wilayah
dibagi dalam beberapa daerah Zona Musim (ZOM).
Wilayah Bali terbagi atas 15 daerah ZOM. Dimana daerah ZOM tersebut
bernomor 205 sampai 219 yang meliputi Jembrana bag. Barat, Buleleng bag.
Barat, Buleleng bag. Utara, Jembrana bag. Selatan dan Tabanan bag.
Selatan, Badung bag. Utara dan Tabanan bag. Utara, Bagian tengah Pulau
Bali (Tabanan, Gianyar, Badung, Bangli, dan Karangasem bag. Tengah),
Tabanan bag. Utara dan Bangli bag. Utara, Buleleng bag. Utara, Bangli
bag. Utara, Buleleng bag. Timur dan Karangasem bag.Utara, Karangasem
bag. Tengah, Karangasem bag. Timur, bagian selatan Gianyar, Klungkung
dan Karangasem, Kodya Denpasar dan Badung bag. Selatan, serta ZOM
terakhir yakni wilayah Nusa Penida.
Berdasarkan data monitoring BMKG, hingga pertengahan Desember 2014
seluruh wilayah Bali sudah memasuki Awal Musim Hujan. Wilayah bagian
tengah pulau Bali adalah wilayah yang paling awal memasuki musim hujan,
sedangkan daerah Nusa Penida dan Buleleng bagian barat adalah wilayah
yang paling akhir memasuki awal musim hujan tahun ini. Puncak musim
hujan secara rata-rata di wilayah Bali terjadi pada bulan
Januari-Februari.
Waspadai Bencana
Berdasarkan rata-rata dari tahun
ke tahun puncak hujan di Bali selalu terjadi pada sekitar bulan
Januari-Februari, sehingga pada tahun ini puncak musim hujan juga
diprakirakan akan terjadi pada bulan Januari-Februari. Pada puncak dari
musim hujan tersebut hujan dengan intensitas lebat akan lebih sering
terjadi baik dengan durasi singkat maupun lama. Jumlah curah hujan
bulanan ketika puncak musim hujan sangat berbeda-beda untuk setiap
daerah zona musim yang ada di Bali.
Secara rata-rata curah hujan bulanan yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan ZOM lainnya pada periode Januari-Februari terjadi di
daerah ZOM 209 (Petang, Pelaga, Baturiti, Pupuan), ZOM 210 (Buruan,
Payangan, Tampaksiring, Abiansemal, Bangli, Sidembunut, Singarata), ZOM
211 (Candi Kuning, Catur, Kembangsari), ZOM 212 (Gitgit, Wanagiri), ZOM
213 (Pengotan, Kintamani).
Sehingga dengan mengetahui bahwa puncak musim hujan pada bulan
Januari-Februari, maka masyarakat perlu waspada terhadap bencana yang
mungkin akan terjadi. Sebab dari sejumlah besar bencana banjir dan
longsor yang terjadi, diketahui bahwa penyebab utamanya adalah sifat
hujan khusunya intensitas hujan, distribusi hujan, dan durasi hujan.
Meskipun selain faktor meteorologis tersebut masih terdapat faktor
lain penyebab bencana banjir dan tanah longsor seperti kandungan air
tanah, kemiringin lahan, permukaan tanah yang gundul, sistem pengaliran
air yang kurang baik, serta alih fungsi tata guna lahan.
Daerah-daerah yang perlu diwaspadai terhadap potensi terkena bencana
tanah longsor yakni Kabupaten Buleleng (Kubutambahan, Sawan, Sukasada,
Busung Biu dan Banjar), Kabupaten Bangli (Kintamani, dan Susut),
Kabupaten Karangasem (Bebandem dan Selat), Kabupaten Gianyar
(Tegalalang, Tampaksiring dan Payangan), Kabupaten Badung (Petang) dan
Kabupaten Tabanan (Baturiti dan Penebel). Sedangkan, di Denpasar,
Jembrana dan Klungkung relatif tidak ada kawasan yang terlalu rawan
longsor (Sumber : BPBD Prov. Bali).
Untuk daerah yang memiliki potensi banjir yang sangat tinggi berada
di wilayah Kota Denpasar dan Kabupataen Badung. Khusus untuk Kabupaten
Badung potensi banjir justru terjadi di beberapa pusat pariwisata
seperti di kawasan wisata Kuta dan Jimbaran (Sumber : BPBD Prov. Bali).
Dengan demikian, dalam menyongsong puncak hujan pada bulan
Januari-Februari diharapkan untuk masyarakat yang berada disekitar
wilayah rawan bencan tersebut untuk lebih meningkatkan kewaspadaan,
untuk mengurangi dampak atau resiko yang dapat ditimbulkan jika potensi
bencana tersebut terjadi.(*)
sumber berita